Berbagi Hidup Berbagi Cerita
”Mengapa Kaum Muda Jumlah Tertinggi yang Terpapar HIV / AIDS”

Sabtu siang, pukul 11.00 wib, 27 Juni 2008, sambil memboncengi Maisy, saya mengendarai sepeda motor menuju Radio Pelita Kasih (RPK FM) yang terletak di Komplek Suara Pembaruan, Cawang, Jakarta Timur. Siang itu, saya mendapat kesempatan mewakili Presidium Pusat HIKMAHBUDHI berbagi dengan para pendengar Radio Pelita Kasih untuk berdiskusi tentang ”Mengapa Kaum Muda Jumlah Tertinggi yang Terpapar HIV / AIDS”. Komunitas Berbagi Hidup, sebuah lembaga lintas agama yang bergerak dalam isu pencegahan dan penanggulangan HIV / AIDS lah yang mengundang kami untuk berbagi hidup berbagi cerita.
Pukul 12:00, kami telah tiba di komplek Suara Pembaruan. Setelah bertanya kepada security, akhirnya kami menemukan lokasi Radio Pelita Kasih yang mojok sendiri. Karena waktu makan siang telah tiba, kami pun memberikan naga-naga yang sedang kelaparan di lambung kami semangkuk mie instan. Tiada pilihan memang, karena hanya itu lah yang ada di warung komplek ini. Sebotol air mineral pun menjadi pelepas dahaga di siang yang terik itu.
Pukul 12:30, kami pun lalu masuk ke dalam ruangan stasiun radio. Usai bertanya kepada mbak resepsionis, kami pun duduk di ruang tunggu. Frangky Tampubolon yang menjadi kontak saya belum tiba. ” (Saya) Masih di Kali Malang,” begitu pesannya saat membalas sms saya. Kami pun menunggu, walau saya tegang juga. Betapa tidak, ini baru pengalaman kedua saya berbicara di radio, setelah yang pertama di radio 68. tak lama Frangky pun datang bersama dengan Melani dari Pemuda Katholik Paroki Tebet. Walau baru pertama kali bertemu, kami pun berdiskusi akrab seperti teman lama yang lama tak bersua. Indahnya perbedaan.
Pukul 12:55, Frangky meminta kami bertiga masuk ke dalam ruangan studio karena siaran akan segera dimulai. Awalnya Maisy hendak menunggu di luar studio, namun oleh Frangky ia tetap diminta untuk masuk. ”Masuk aja, di dalam santai kok,” begitu ajaknya. Maka kami pun masuk ke dalam ruangan studio. Di dalam ruangan studio, tampak beberapa headset dan microphone terpasang apik di atas meja. ”Hm, inilah studio radio kedua yang aku lihat,” gumam saya dalam hati.

Sebelum dimulai, Franky lantas membuka diskusi terlebih dahulu. ”(Aku) akan membuka dahulu, setelah itu (aku) akan memperkenalkan satu demi satu nara sumber hari ini,” begitu jelasnya. Sebelum dimulai, kami pun sempat berfoto bersama menggunakan kamera Melani. Pukul 13:00, siaran pun diawali dengan kata pembuka dari Frangky. ”Baik, selamat siang sahabat berbagi. Semoga sahabat berbagi dalam keadaan sehat,” sapanya kepada para pendengar. Ia pun lalu mengenalkan saya, Maisy, dan Melani kepada para pendengar sahabat berbagi. Usai perkenalan, Frangky lantas memutarkan sebuah lagu berjudul ”Yang Terbaik Untukmu” dari Avatar, sebuah kelompok band baru pun kepada para sahabat berbagi.
Usai lantunan lagu, Franky lalu membuka diskusi dengan bertanya, mengapa kaum muda menjadi generasi yang paling banyak terpapar HIV / AIDS? Kenapa dibilang yang tertinggi, karena fakta dan riset membuktikan dari hasil riset beberapa lembaga, kaum muda yang tertular di atas 85 %. Dengan usia berkisar dari 13 sampai 49 tahun. ”Tentu ini menjadi pertanyaan bagi kita,” tukasnya mengawali sharing. Melani lantas menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Frangky dengan mengatakan kaum muda menjadi yang paling dominan terpapar HIV / AIDS lantaran perilaku-perilaku beresiko yang dilakukan Anak muda seperti memakai narkoba jarum suntik, tato, dan perilaku seks bebas. ”Anak muda di Jakarta mana sih yang tidak tahu narkoba jarum suntik, dan seks bebas,” ungkapnya menjelaskan dua faktor dominan terpaparnya kaum muda akan HIV / AIDS.
Saya pun kemudian urun rembuk dengan mengatakan bahwa pertama, kaum muda adalah generasi yang identik dengan rasa ingin tahu yang besar. Adanya rasa ingin tahu yang besar maka tanpa tedeng aling-aling mereka akan melakukan apapun untuk dapat menuntaskan rasa keingintahuan itu. Kedua, begitu mudahnya anak muda saat ini menonton tayangan-tayangan yang tidak sesuai dengan umur. Apalagi teknologi internet telah sangat begitu maju. Ketiga, makin menipisnya nilai-nilai moralitas (agama) yang selama ini menjadi pegangan hidup. Dan keempat, adanya serbuan budaya luar yang begitu massif sementara budaya asli Indonesia tidak siap dan tidak ditanamkan secara baik dan mengakar. Problema ini muncul bukan hanya karena ketidakmampuan individu namun juga berkenaan dengan budaya, sistem, dan struktur. ”Pada akhirnya akan tercipta kebijakan yang tidak adil,” tutur saya.

Frangky lalu menyambung diskusi dengan mengatakan, selama ini yang sering terjadi adalah kurangnya informasi dan bahkan ketidakuratan informasi mengenai HIV / AIDS yang didapatkan oleh masyarakat. ”Ini juga salah satu kendala yang dihadapi,” tandasnya. Kembali ke tema, Frangky mengerucutkan topik dengan mengatakan bagaimana dengan kaum muda yang telah terpapar HIV / AIDS. ”Adakah ruang untuk mereka?” tanyanya. Melani yang memiliki pengalaman dengan temannya yang ODHA. Belum lama ini, temannya ini masih percaya diri untuk memberikan sharing di gereja untuk berbagi walau kondisinya sudah sedemikian parah. Ia pun mengajak kaum muda yang telah terpapar untuk tetap percaya diri dan melanjutkan kehidupan.
”Sebetulnya dukungan yang terkuat muncul dari keluarga,” jelas saya menjawab pertanyaan Frangky adakah ruang untuk para ODHA. Karena secara fisik dan psikologi, keluarga adalah dukungan yang terkuat diterima para ODHA. Dengan sisa rentang waktu hidup yang tak lama lagi, para ODHA dapat melakukan sesuatu dengan sharing kepada mereka yang tidak terpapar HIV / AIDS. Hal ini menjadi inspirasi bagi yang belum terkena. Sehingga sahabat berbagi pun dapat belajar dari kesalahan.
”Seperti apa ruang yang diberikan kepada mereka. Apakah sudah maksimal,” tanya Frangky lagi. Melani pun menjawab ia akan memberikan ruang kepada mereka. Tidak hanya sekadar memberikan testimoni namun juga turut aktif dalam berkegiatan. Semua kesempatan diberikan kepada temannya. ”Yang terpenting bagaimana mereka harus bangkit,” tandasnya. Lalu suara merdu pun terdengar di studio, ”Sahabat berbagi juga bisa menelpon ke 0218000 444 atau 081398000444 untuk sms!” seru Reti, penyiar Radio Pelita Kasih yang datang terlambat karena sedang tidak enak badan.
Lantas lagu Heal the World ciptaan Michael Jackson pun mengalun lembut mengiringi break. Hari itu, dunia memang tercengang dengan berita Michael Jackson yang meninggal dunia. ”Semua topik televisi hari ini berubah karena Michael,” papar Frangky. Saat break, kami pun sempat berdiskusi singkat persoalan Buddha Bar yang tidak kunjung selesai yang dimuat di majalah Majemuk.
”Masih dengan berbagi hidup di RPK FM. Baru saja kita mendengarkan Heal the World dari seorang legendaris yang sudah almarhum saat ini ya,” buka Reti. Frangky menyambung topik dengan mengundang pendengar untuk sms dan menelpon langsung ke RPK FM. Di kelompok lintas agama ini tidak ada yang namanya stigma dan diskriminasi bagi para ODHA. ”Nah, bagaimana strategi untuk mengimbangi dan menghentikan pengaruh-pengaruh negatif,” tanyanya lagi. Saya lalu memaparkan bahwa manusia paling mudah untuk menyaksikan sebuah tayangan. Tayangan tentang bagaimana sulit dan menderitanya ODHA di dalam kehidupan sosial mereka. Mata pemirsa akan lebih terbuka saat melihat sebuah tayangan daripada penyebaran brosur-brosur yang selama ini dilakukan. ”Kita harus berpikir di luar kotak,” tandas saya.
Lalu Pipit, seorang pendengar menelpon ke studio dan bertanya kepada Melani bagaimana kelanjutan hidup temannya itu dengan keseharian dan aktivitasnya. Sebelum pertanyaan itu dijawab, saya tetap diminta untuk melanjutkan perbincangan. Saya lantas memberikan sebuah contoh nyata di Thailand, bagaimana seorang penderita HIV / AIDS kemudian mendirikan sebuah pusat rehabilitasi HIV / AIDS. Di sana mereka tidak menggunakan obat-obatan medis hanya menggunakan obat-obat herbal saja. ”Abu jenazahnya kemudian dikumpulkan,” papar saya. Dalam konsep Buddhis sendiri, kita memiliki yang namanya sila, samadhi, dan panna. Dan sebagai pedoman kita memiliki yang namanya Pancasila Buddhis. Di mana salah satunya berkaitan dengan kehidupan seksual yang baik.
Melani lantas memaparkan bagaimana ia bersama dengan komunitasnya melakukan pendampingan bagi para ODHA. ”Boleh dibilang penyebaran terbesar adalah dari narkoba,” ujarnya. Mereka bahkan telah membuat sebuah buku tentang bahaya narkoba dan memberikan sosialisasi di sekolah-sekolah dasar. Menurut teman Melani yang seorang psikolog, pintu masuk terlibat narkoba dimulai dari kebiasan merokok. ”Selama melakukan pendampingan, para ODHA yang ikut juga lintas agama, tidak terbatas pada satu agama,” paparnya. Ia pun menjawab bahwa temannya yang ODHA tetap aktif di dalam komunitasnya dan menjadi pengurus. ”Keterbukaan komunikasi tetap ada di antara kami,” jelasnya.
”Apa skala prioritas yang dilakukan oleh komunitas-komunitas bagi para ODHA ini?” tanya Frangky kepada saya. Bagi kami, skala prioritas ada di keluarga. Bagaimana keterbukaan komunikasi terjalin di antara para anggota keluarga adalah yang terpenting. Jika terjadi kebuntuan komunikasi, maka hal ini harus dipecahkan terlebih dahulu. Banyak para ODHA terjangkit karena ketidaktahuan mereka sendiri.
Saya pun memberikan sebuah ilustrasi bagaimana kehidupan kota besar sangat berpengaruh kepada kehidupan sebuah keluarga. Butuhnya anak sebuah pengakuan dan kasih sayang seringkali tidak terakomodir dengan hadirnya orangtua di sisi anak. Materi yang menjadi tolak ukur keberhasilan menjadikan orangtua sibuk dan kehidupan sosial anak pun terbengkalai. Lantas, kasih sayang orangtua pun diwujudkan dengan pemberian materi yang tidak sesuai dengan perkembangan dunia anak.
Kami pun break sejenak mendengarkan lantunan lagu Bukan Cinta Biasa yang dinyanyikan oleh Afgan. Usai lagu, Frangky rupanya hendak memperdalam lagi peran keluarga bagi eksistensi anggota keluarga mereka positif ODHA. Ia pun bertanya kepada saya, apa sih yang sebenarnya yang menjadi harapan di keluarga? Pertama, support dari keluarga, dan kedua teman-teman di sekitarnya. Dua hal Ini menjadi komponen penting bagi eksistensi para ODHA. Teri pun menyetujui hal ini bahwa keluarga memiliki peran penting, begitu pula teman-teman di sekitarnya. Mendengar hal ini, Melani lalu menambahkan bahwa protect dari keluarga itu penting karena awal si anak keluar namun informasi dari luar sangat kencang. ”Balance atau bahkan lebih besar. Semua kembali kepada individu masing-masing,” tandasnya.

Lantas Frangky bertanya, sebenarnya gambaran ideal dari sebuah keluarga menurut pemikiran saya itu bagaimana? Mendengar pertanyaan itu , gambaran ideal sebuah keluarga menurut saya adalah dari kecil sampai dewasa sampai mungkin orangtua itu meninggal, mereka siap membuka pelukan dan hatinya untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Sebagai penutup, Frangky lantas menyimpulkan bahwa sebagai kaum muda untuk menekan gaya hidup yang sekiranya membawa duplikasi kepada kaum muda. Kuncinya adalah kekeluargaan. Walau ada banyak kunci-kunci lain. Apalagi jika anggota keluarga mereka sudah terpapar. Sebagai contoh, ada dua keluarga di Bekasi dan Depok yang orangtua mereka kemudian tetap sayang dan care kepada anak-anak mereka yang ODHA. Bahkan mencari berbagai informasi tentang HIV / AIDS dan tidak memperdulikan suara-suara miring orang-orang di sekeliling mereka. ”Mereka (orangtua –red), tidak hanya melahirkan, tapi juga mempersiapkan untuk menerima aku apa adanya,” ujar Frangky mewakili kisah dua keluarga itu.
Reti pun kemudian membacakan sms yang masuk ke studio RPK FM. Salah satunya tentang masukan bagaimana membuat modul penanganan ODHA. Tak terasa, waktu terus bergulir, pukul 14:00 sudah berada di penghujung acara. ”Baik sahabat berbagi, satu jam sudah kita bersama sahabat berbagi di berbagi hidup. Jangan lupa terus dengerin berbagi hidup setiap hari Sabtu di RPK FM. Akhir kata, pamit undur diri dan nice weekend,” ujar Reti menutup siaran.
Usai siaran, kami bahkan sempat melanjutkan diskusi sejenak tentang pentingnya penanggulangan HIV / AIDS. saya dan Maisy pun akhirnya meninggalkan stasiun radio RPK FM dan melajukan sepeda motor menuju sekretariat Presidium Pusat HIKMAHBUDHI. Berbagi hidup berbagi cerita, indahnya perbedaan dalam kebersamaan, pengalaman ini kami rasakan di RPK FM Jakarta. (Himawan Susanto)