Menyambangi Boyolali dan Semarang

Sep 10, 2009 Posted Under: Dari Sahabat

Siang hari, pukul 15:00 wib, tanggal 28 Agustus 2009, tangan mulai berkemas-kemas menyiapkan tas. Satu jam ke depan, saya akan menyambangi para sahabatku di Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Boyolali dan Semarang. Tepat pukul 16:00 Wib, saya pun melangkahkan kaki menuju lantai dasar dan bergegas menaiki R 905, bus yang akan membawa saya ke terminal Rawamangun.

Sebuah perjalanan

Macet, memang kini sudah menjadi rutinitas warga Jakarta. Maka tak heran jika pukul 18:00 wib, saya baru bisa tiba di terminal Rawamangun. Saya pun bergegas mencari NS-11, kode bus Nusantara yang akan mengantarku ke Semarang. Bangku no 4, alias bangku keramat memang menjadi pilihanku sejak pertama kali memesan tiket. Harapan dapat makan di rumah makan sirna karena ternyata servis makan ditiadakan selama bulan ramadhan. ”Terpaksa deh beli nasi padang di terminal daripada nanti kelaparan,” itulah yang saya akhirnya lsayakan. Tiada yang berkesan dalam perjalanan dengan bus ini, kecuali kursinya yang tidak enak. Punggung serasa sakit semua, alhasil saat tiba di Semarang, kantuk pun rasanya belum jua berkurang. Setibanya di Terboyo pukul 05:00 Wib tanggal 29 pagi, Widya Kusuma, mantan ketua umum PC HIKMAHBUDHI Boyolali pun mengirimkan pesan singkatnya. ”Sudah sampai mana kang?” tanya dalam sms. ”Baru sampe Terboyo. Jam 8-an sampe Boyolali,” itulah balasan dari saya.

http://images.himasatu.multiply.com/image/3/photos/17/600x600/1/DSC05677-copy.jpg?et=2ZfJElqQhMwbLGQi1tWNxw&nmid=282043699

Saya lantas menunggu bus ke Solo. Beberapa kali bus patas lewat dihadapan saya, namun karena telah berketetapan hati hendak naik bus bermesin Mitsubishi yang ekonomi. Patas pun dibiarkan lewat begitu saja. Sampai bus ke 7, barulah saya menaiki bus. Ya itu tadi, bus bermesin Mitsubishi kelas ekonomi. Raungan mesin Mitsubishi yang saya tunggu pun terdengar merdu di telinga, laksana musik klasik yang mengalun lembut. Entah karena memang sudah ngantuk atau terbuai alunan mesin, saya pun lelap tertidur. Saya baru terbangun saat kondektur menarik ongkos. Setelah itu tidur lagi, dan baru benar-benar bangun saat memasuki wilayah Salatiga. Tak lama sebuah sms masuk, lagi-lagi dari Widya. ”Sudah sampe mana neh kang,” tanya lagi. ”Sudah di terminal Salatiga. Sebentar lagi sampe,” balasku segera.

Bus pun melaju cepat, dan saya pun langsung pasang mata karena sudah lupa-lupa ingat posisi di mana nanti saya turun. Sepintas, di sebelah kiri tampak sebuah patung sapi. ”Nah sudah dekat nih,” batinku. Benar saja, tak lama di sebelah kanan terlihat gubuk mie ayam yang saya pernah makan. Maka, segeralah kuminta pak sopir menepikan bus. Bus pun berhenti kira-kira 50 meter setelahnya. Maka segeralah saya jalan kaki dan kemudian menyeberang jalan menuju kost Widya.

http://images.himasatu.multiply.com/image/3/photos/17/600x600/2/DSC05679-copy.jpg?et=U6HA8TkVXJ0au9UCbXzG5A&nmid=282043699

Bertemu Sahabat Boyolali

Jika di Jakarta, kita biasanya bertemu jalan yang datar. Di sini, adanya jalan menanjak yang tinggi. Lumayan sekalian olahraga. Tak lama, saya sudah tiba di kost yang saya kira disitulah Widya tinggal. Tapi kok di depan kost nya sepi-sepi saja, padahal katanya sudah menunggu di depan kost. Pasti salah nih. Maka sms pun dilayangkan. Ternyata memang salah. Widya kostnya di dekat kantor desa, bukan di atas. Maka turunlah saya. Belum lama berjalan, terlihat Widya melambaikan tangan dan juga berjalan menghampiri. Di titik pertemuan, kami pun lantas bersalaman. ”Bagaimana kabarnya,” tanyanya. ”Baik,” jawabku singkat.

”Kita ke kost Sunyi dulu atau sarapan dulu?” tanyanya. ”Sarapan dulu aja, dah laper nih,” ujarku. Maka kami pun turun lagi, menyeberang jalan, dan masuk ke sebuah rumah makan sederhana. Menu hari itu yang kusuka adalah sayur singkong, nangka muda, dan telur asin. Mantap! Dan yang lebih mantap lagi, makannya dibayarin Widya. Terima kasih ya Widya. Jarang-jarang Pengurus Presidium Pusat ditraktir. Biasanya malah terbalik.

http://images.himasatu.multiply.com/image/3/photos/17/600x600/3/DSC05680-copy.jpg?et=fqUIzHn0HhjmULr1RrzK5g&nmid=282043699

Kelar sarapan, saya dan Widya pun beranjak ke kost Sunyi Silani, Ketua Umum Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Boyolali yang baru. Tanggal 12 September nanti, ia dan para pengurusnya akan segera dilantik dan meneruskan kepengurusan hingga tahun 2011. Bayangan sosok Sunyi yang besar dibenakku seketika sirna karena ia ternyata berpostur kecil, namun itu semua tetap tidak mengurangi kepiawaiannya dalam memimpin. Usai berbincang-bincang, saya pun pamit sebentar untuk membasuh diri. Maklum sudah 20 jam saya belum mandi sejak dari Jakarta. Saya pun lantas bersiap-siap menerima sejuknya air Boyolali. Ternyata, walau hari telah siang, airnya tidak sejuk lagi, namun masih sangat dingin. Tubuh ini pun gemetaran menerima kesejukannya.

Usai membasuh diri, saya pun beristirahat sejenak di kamar yang disediakan. Namun mata ini rupanya tak mau kompromi dengan yang namanya kantuk. Karena tak bisa menutup mata, akhirnya keluar dan berdiskusi dengan teman-teman yang kemudian satu persatu berdatangan.

Berdialog dengan Boyolali

Menjelang siang, para calon pengurus baru pun berdatangan. Ada Sunyi, Dwi Sarjito, Budiono, Sukismi, Rusmini dan Suratmi. Kami pun lantas berbincang-bincang mengenai Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Boyolali ke depan. Dalam diskusi itu, diambil kesimpulan, perlunya pemikiran kue lapis dalam PC HIKMAHBUDHI Boyolali. Kenapa kue lapis? Karena dengan adanya kue lapis, diharapkan organisasi akan dapat terus berjalan di atas rel yang sebenarnya.

Selain pemikiran kue lapis, kami pun mendiskusikan progress Kongres VI HIKMAHBUDHI di Mataram bulan Nopember nanti. Para sahabat ini ternyata telah siap untuk berangkat menghadiri musyawarah tertinggi di HIKMAHBUDHI ini.

Perbincangan pun beranjak ke tata cara Sidang Pelantikan yang akan digelar tanggal 12 September. Salinan petunjuk pelaksana dan teknis pun dikeluarkan dan dibahas bersama. Akhirnya tercapailah kata sepakat, sidang pelantikan akan digelar di balai desa yang akan diselingi dengan pemutaran film dokumenter ”Anak-Anak Borobudur”.

Saat itu, detil acara pun kami bahas hingga tuntas. Dan yang terpenting semua sahabat di PC HIKMAHBUDHI Boyolali telah siap mengemban tanggung jawab dua tahun ke depan bagi survivenya HIKMAHBUDHI. Tak terasa, waktu selama enam jam telah kami lewatkan, hari pun perlahan meredup dan gelap pun tiba. Sebuah perbedaan kembali terasa, jika di Jakarta suasana riuh ramai, di sini justru sunyi senyap. Memang daerah di luar Jakarta tempat yang ideal untuk hidup, namun tidak untuk mencari uang.

Teman-teman lantas mengingatkan saya untuk membasuh diri. Dan saat itu dikatakan, yang terbayang adalah betapa dinginnya air itu. Dan alhasil saya pun hanya membasuh muka. Jorok ya! Usai membasuh muka, kami pun lantas mencari makan malam. Rencananya kami hendak makan mie ayam yang terkenak, namun setibanya di sana, si tukang mie ayam rupanya tidak dagang. Nasi goreng pun jadi sasaran berikutnya. Tak mau kecolongan dibayarin lagi, saya pun makan dengan lahap dan segera menghabiskan nasi goreng di hadapan. Usai makan, langsung saya membayar makanan kami. Alhasil, sukses rencana saya untuk mentraktir para sahabat Boyolali ini.

Selesai makan, kami kembali ke kost Sunyi dan kembali berbincang-bincang. Hingga hampir pukul 22:00 wib kami meneruskan diskusi. Dari soal HIKMAHBUDHI secara umum sampai dengan BisMania Community. Campur aduk deh diskusinya.

Menjelang pukul 22:00 lebih, kami pun mengakhiri diskusi. Saat itu, saya masih menunggu konfirmasi dari para sahabat di PC HIKMAHBUDHI Semarang perihal waktu pertemuan kami. Hingga pukul 22:30, tak satupun pesan singkat dan telepon saya mendapatkan konfirmasi. Hingga akhirnya, saya dapat menghubungi Ajimas dan clearlah sudah rencana esok hari saya di Semarang.

http://images.himasatu.multiply.com/image/3/photos/17/600x600/4/DSC05681-copy.jpg?et=9zpM%2BSTnFSU%2CkPoA55rnhg&nmid=282043699

Menuju Kota Atlas Semarang

Pukul 07:30 wib, saya sudah terbangun. Bukan karena sudah puas tidur, namun karena tak bisa tidur yang disebabkan dinginnya udara semalam. Padahal sudah pake jaket, selimut, kaos kaki, celana panjang, dan kupluk, tetap saja udara dingin itu menyeruak masuk ke dalam tulang-tulangku.

Pukul 07:45 wib, Widya yang juga menginap di kost Sunyi datang dan menawarkan teh manis hangat. ”Hm, lumayan buat ngilangin dingin,” pikir saya. Namun tetap saja, udara masih terasa dingin pagi itu. Hingga akhirnya saya pun bertingkah seperti turis yang mencari kehangatan matahari tropis. Berjemur di pinggir rumah, tentu dengan pakain lengkap. Widya yang melihat saya berjemur lantas berkata, kedinginan nih, katanya!” memang, walau matahari telah menampakkan wajahnya, udara tetap saja dingin.

Pukul 08:00 wib, saya bergegas membasuh diri. Air yang dingin sudah tak lagi dihiraukan, karena jika tidak mandi lagi, jadi bau apa nanti tubuh ini. maka dengan terpaksa, tubuh ini pun diguyur air yang serasa es siang itu. Lega! Itulah kata yang dapat diucapkan seusai membasuh diri.

Mie instan plus telor yang dibuat Sunyi jadi sasaran berikutnya. Kenyang dan siap untuk berangkat ke Jakarta. Diantar oleh Widya dan Sukismi, saya pun menunggu kedatangan bus ke Semarang. Tak lama, lewatlah sebuah bus ekonomi ke Semarang. Karena sekarang niatnya hendak naik bus patas, ditolaklah dia.

Pucuk cinta ulam tiba, di kejauhan tampak bus patas Safari. Tangan dilambaikan, bus pun berhenti. Saya pun pamitan sama Widya dan Sukismi, sampai ketemu lagi di Kongres! Pagi itu, Safari melaju dengan cepat, rupanya di belakang patas Ismo membututi, maka terjadilah aksi saling balap. Hiburan yang mengasyikan di pagi hari yang cerah.

http://images.himasatu.multiply.com/image/2/photos/17/600x600/5/DSC05684-copy.jpg?et=7YeyB0b2HNOCFZ%2C3pa%2ByIQ&nmid=282043699

Berdialog dengan Semarang

Karena tak begitu hapal jalan di Semarang, saya pun dijemput oleh Ardy dan Tata, dua orang sahabat dari Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Semarang. Sebelum berkumpul di Java mall Semarang, saya pun lantas mencari tiket pulang. Ajimas sebenarnya sudah mencarikan untuk saya, namun di detik-detik terakhir, pilihan bus pun berganti. Dari Nusantara pindah ke Shantika. Apa boleh buat, masih trauma sama bangku yang keras, plus kalau naik Nusantara dapatnya di dekat toilet. Jadi batal deh.

Selesai membeli tiket, kami menuju Java Mall Semarang. Di sana, Titi dan Liana telah menunggu, sementara Tata sudah diantar pulang ke rumah karena harus menyiapkan sembahyang. Trims buat Tata yang sudah menjemput saya. Di ruang pujasera pun kami kemudian berdiskusi hangat, terutama seputar aktivitas Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Semarang yang jarang terdengar.

http://images.himasatu.multiply.com/image/2/photos/17/600x600/6/DSC05686-copy.jpg?et=9VJsrnPsZy3yjU6h2DDL3A&nmid=282043699

Saran, masukan, ide, kritik mengemuka dalam diskusi yang dihadiri oleh 7 Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Semarang diantaranya Titi, Ajimas, Chen Chen, Ardy, Adil, dan Liana minus Sekjend mereka, Nanik yang kebetulan tidak bisa hadir karena sedang sakit dan masih di Juwana. Salah satu ide yang mengemuka adalah kembali diadakannya rapat rutin mingguan bagi seluruh pengurus dan anggota PC HIKMAHBUDHI Semarang. Hal ini penting demi terjaganya jalinan kalyanamitra di antara mereka.

http://images.himasatu.multiply.com/image/2/photos/17/600x600/7/DSC05689-copy.jpg?et=8CC99rmyEmPpfa4o1GOkjw&nmid=282043699

Selain itu, kami pun lagi-lagi membahas progress Kongres VI HIKMAHBUDHI mendatang. Salah satu adalah tentang siapa bakal calon yang hendak mereka ajukan dalam Kongres nanti. Tak terasa 2 jam lamanya kami habiskan berdialog serius siang itu. Selesai berdialog, saya pun diajak ke Pondok Daun yang terletak di dekat wihara Mahavira Graha Semarang. Di sana, kami tetap berbincang-bincang seputar HIKMAHBUDHI.. Di sini, Ardy dan teman dekatnya sempat juga mendemonstrasikan keahliannya dalam bermain sulap.

Jika kita biasanya melihat dari jauh, di sini saya akhirnya dapat mengetahui beberapa trik yang biasa dilakukan para pesulap. Karena waktu masih cukup panjang, kami pun beranjak ke kelenteng Tay Kak Sie di gang Lombok. Di sana saya bersama para sahabat sempat berfoto bersama di depan sebuah replika perahu Laksamana Cheng Ho. Karena jam makan tak lama lagi, saya pun hanya sedikit mengisi perut, karena nanti malam saya juga akan mendapatkan servis makan gratis dari bus.

http://images.himasatu.multiply.com/image/2/photos/17/600x600/8/DSC05702-copy.jpg?et=I4zDHJO6%2C8VUfxgQu0UOlA&nmid=282043699

Pukul 19:00, kami pun bergegas ke Krapyak, tempat saya akan naik bus. Setibanya di sana, bus nya belum jua datang. ”Macet. Sekitar jam 20 baru sampe,” kata agennya. Maka kami pun kembali berputar haluan dan berkeliling kota Semarang. Sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang ringan, suasana pun cair. Walau hati deg-deg an takut ketingggalan bus, saya tetap menikmati wisata keliling kota malam itu. Menjelang pukul 20:00, kami kembali ke Krapyak, dan lagi-lagi bus nya belum jua tiba. Karena sudah mepet, kami pun melanjutkan diskusi di pinggir jalan sambil menunggu kedatangan bus saya. Sebenarnya, saya merasa tak enak dengan para sahabat ini. menemani saya hingga naik bus, namun karena mereka begitu antusias, saya pun meredakan ketidak enakan itu dan melanjutkan perbincangan.

http://images.himasatu.multiply.com/image/2/photos/17/600x600/9/DSC05703-copy.jpg?et=DCg1frFKtSRNTkrGljiQxQ&nmid=282043699

Dari diskusi siang tadi, saya menangkap masih banyaknya peluang di PC HIKMAHBUDHI Semarang. Maka tak salah jika, pada akhirnya mereka yang berkomitmen lah yang akan bergerak dan maju. Pukul 20:15, bus saya pun tiba. Para sahabat ini lantas melepas saya kembali ke Jakarta. Di dalam bus, pikiran saya masih saja terus berkelana, sungguh indah persahabatan yang terjalin di PC HIKMAHBUDHI Boyolali dan Semarang dalam tiga hari ini. Berkat kalyanamitra. semua itu dapat terwujud. Selamat berjuang PC HIKMAHBUDHI Boyolali dan Semarang. Kami tunggu kiprahmu!

Bus Shantika pun melaju kencang menembus malam dan menyusuri pantura yang makin padat malam itu. Beruntung, kursi bus nya malam itu lumayan empuk, kalau tidak, bisa tidak tidur lagi semalaman. Memang masih enak bus Sinar Jaya juga…….

http://images.himasatu.multiply.com/image/1/photos/17/600x600/10/DSC05704-copy.jpg?et=UC6WMRfTLr4w2iYvS%2CYMIA&nmid=282043699

Himawan Susanto

Leave a Reply