It’s about Happiness

* Sabtu lalu, telah lahir Jerrico Tovia Xu, anak pertama dari Dery dan Susan pada tanggal 09-10-09. Bagi yang belum mengenal Dery, ia alumnus Universitas Tarumanagara Jakarta dan juga salah satu alumni Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Jakarta.
* Kemarin malam, pukul 19.00-21.00 wib, 11 oktober 2009, bertempat di Graha Baramulti lantai 6, Jakarta telah berlangsung dengan sukses resepsi pernikahan Ifan Julius dan Sansan Bong. Dalam resepsi ini, hadir para alumni, senior, pengurus PP HIKMAHBUDHI, dan Pengurus PC HIKMAHBUDHI Jakarta.
* SIMUSLUB Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Semarang telah memandatkan Ajimas Hartanto sebagai Ketua Umum HIKMAHBUDHI Semarang yang baru. Mari kita dukung Ajimas untuk kemajuan HIKMAHBUDHI Semarang.
Tentu saja untuk mereka semua : Dery, Ifan, Sansan, dan Ajimas….KAMI UCAPKAN…….CONGRATULATIONS!!!
Selamat dan Sukses Selalu………

Audiensi HIKMAHBUDHI dengan DIRJEN Bimas Buddha, Budi Setiawan
PP HIKMAHBUDHI Berfoto Bersama Dengan Budi Setiawan
Hari Selasa, 15 September 2009, pukul 11.00 wib, bertempat di lantai 4 Kantor Departemen Agama Republik Indonesia, delegasi Pengurus Presidium Pusat HIKMAHBUDHI yang terdiri dari Sukman, Himawan Susanto, dan dipimpin oleh ketua umum mereka, Eko Nugroho Rahardjo diterima oleh Budi Setiawan, Direktur Jenderal Pembimbing Masyarakat Buddha.
Dalam audiensi ini, turut hadir pula Witono, Sekretaris Jenderal Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Jakarta, dan Agus, Ketua Bidang Humasnya. Pertemuan ini terselenggara dalam rangka audiensi PP HIKMAHBUDHI kepada Dirjen Bimas Buddha berkenaan dengan akan diadakannya Kongres VI HIKMAHBUDHI di Mataram bulan Nopember mendatang.
Read More
Menyambangi Boyolali dan Semarang
Siang hari, pukul 15:00 wib, tanggal 28 Agustus 2009, tangan mulai berkemas-kemas menyiapkan tas. Satu jam ke depan, saya akan menyambangi para sahabatku di Pengurus Cabang HIKMAHBUDHI Boyolali dan Semarang. Tepat pukul 16:00 Wib, saya pun melangkahkan kaki menuju lantai dasar dan bergegas menaiki R 905, bus yang akan membawa saya ke terminal Rawamangun.
Sebuah perjalanan
Macet, memang kini sudah menjadi rutinitas warga Jakarta. Maka tak heran jika pukul 18:00 wib, saya baru bisa tiba di terminal Rawamangun. Saya pun bergegas mencari NS-11, kode bus Nusantara yang akan mengantarku ke Semarang. Bangku no 4, alias bangku keramat memang menjadi pilihanku sejak pertama kali memesan tiket. Harapan dapat makan di rumah makan sirna karena ternyata servis makan ditiadakan selama bulan ramadhan. ”Terpaksa deh beli nasi padang di terminal daripada nanti kelaparan,” itulah yang saya akhirnya lsayakan. Tiada yang berkesan dalam perjalanan dengan bus ini, kecuali kursinya yang tidak enak. Punggung serasa sakit semua, alhasil saat tiba di Semarang, kantuk pun rasanya belum jua berkurang. Setibanya di Terboyo pukul 05:00 Wib tanggal 29 pagi, Widya Kusuma, mantan ketua umum PC HIKMAHBUDHI Boyolali pun mengirimkan pesan singkatnya. ”Sudah sampai mana kang?” tanya dalam sms. ”Baru sampe Terboyo. Jam 8-an sampe Boyolali,” itulah balasan dari saya.
Read MoreBerbagi Hidup Berbagi Cerita
”Mengapa Kaum Muda Jumlah Tertinggi yang Terpapar HIV / AIDS”

Sabtu siang, pukul 11.00 wib, 27 Juni 2008, sambil memboncengi Maisy, saya mengendarai sepeda motor menuju Radio Pelita Kasih (RPK FM) yang terletak di Komplek Suara Pembaruan, Cawang, Jakarta Timur. Siang itu, saya mendapat kesempatan mewakili Presidium Pusat HIKMAHBUDHI berbagi dengan para pendengar Radio Pelita Kasih untuk berdiskusi tentang ”Mengapa Kaum Muda Jumlah Tertinggi yang Terpapar HIV / AIDS”. Komunitas Berbagi Hidup, sebuah lembaga lintas agama yang bergerak dalam isu pencegahan dan penanggulangan HIV / AIDS lah yang mengundang kami untuk berbagi hidup berbagi cerita.
Pukul 12:00, kami telah tiba di komplek Suara Pembaruan. Setelah bertanya kepada security, akhirnya kami menemukan lokasi Radio Pelita Kasih yang mojok sendiri. Karena waktu makan siang telah tiba, kami pun memberikan naga-naga yang sedang kelaparan di lambung kami semangkuk mie instan. Tiada pilihan memang, karena hanya itu lah yang ada di warung komplek ini. Sebotol air mineral pun menjadi pelepas dahaga di siang yang terik itu.
Read More
Sebatang Lisong (in memorium: Si Burung Merak)

Sajak Sebatang Lisong
menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
Getting (More) Socially Engaged: The Future Path of Indonesian Buddhists
Buddhists comprised of 1% of Indonesia’s total population, approximately amounted to 240 millions people. Most Buddhists live in the big cities of Sumatra and Java islands, especially those of Chinese origin. While many others, mostly indigenous Javanese Buddhists reside in several villages in Java, especially in central and eastern part of Java. After experiencing the revival of Buddhism in the late 60’s, currently, Buddhists are enjoying their freedom to exercise their religious rights. Despite facing few practices of discrimination in certain local villages, the overall atmosphere is decent for Buddhists in Indonesia. For the last 40 years, it is appropriate to mention that Indonesian Buddhist community has achieved accomplishments in terms of the religious life of Buddhists: recognition from society and government, the increasing number of Buddhist temples, organizations, publications, practitioners, and others. However, in terms of their contribution to society, it is still a long way to go: Buddhists have a plenty of homework to work for real essence of humanity. The following article would provide a brief chronological and critical outlook on how Indonesian Buddhists have gone through its journey since Buddhism revived in the late 60’s and how they get to know engaged Buddhism movement.
The euphoria of revival
To understand why Indonesian Buddhists deal more with religious than social orientation in practicing Buddhism, it is important to take a brief look back to the late 60’s, when Buddhism marked its revival in Indonesia. As the presence of religious infrastructure was very minimal, this period witnessed vigorous efforts of various local Buddhist elements. Limited sources and places to learn and practice Buddhism are the main hindrances. Boosted by these shortcomings, Buddhists – old and young – showed their eagerness resolving any restrictions hampering ways for public to learn and practice Dharma. The focus was to make sure that needs to learn Buddhism can be accommodated and fulfilled.
Read More